Agar komputer dapat digunakan untuk memanipulasi suara, maka sinyal
suara harus dikonversi ke dalam bentuk digital. Mula-mula, konversi dari sinyal
audio analog ke digital dilakukan dengan melakukan proses sampling, yaitu
mengambil harga sinyal setiap periode waktu tertentu, mengkonversikan harga
tersebut ke dalam skala yang sesuai, dan menyimpan hasilnya.
Sebagai contoh, sinyal audio yang memiliki frekuensi sampling 22050 Hz,
berarti dalam satu detik dilakukan proses sampling sebanyak 22050 kali.
Frekuensi sampling yang digunakan untuk mengkonversi sinyal audio analog dan
digital dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Semakin tinggi frekuensi sampling
yang digunakan, semakin bagus kualitas yang didapatkan, namun semakin besar
kapasitas media penyimpan yang dibutuhkan. Sebagai gambaran, sistem telepon
digital kebanyakan menggunakan frekuensi sampling 8 kHz karena sudah cukup
memadai untuk merekam suara pembicaraan manusia, sedangkan perekaman
musik pada CD (compact disk) dan DAT (digital audio tape) menggunakan
frekuensi sampling 44 kHz guna memperoleh kualitas rekaman yang tinggi.
Teori Penunjang II-8
Salah satu perusahaan yang mempelopori pemanfaatan komputer untuk
mengolah sinyal audio digital adalah Apple dengan produknya Macintosh. Tetapi
pada saat ini komputer kompatibel IBM PC berbasis prosesor Intel juga dapat
memiliki kemampuan untuk mengolah sinyal audio digital dengan menambahkan
perangkat keras sound card seperti SoundBlaster, misalnya. Di antara format
audio digital yang populer adalah: Mac .snd, SoundBlaster .voc, RIFF .wav, dan
Sun .au, dan SGI .aiff.
No comments:
Post a Comment